PENDAHULUAN
Latar Belakang dan Kondisi Awal
Pendidikan tidak hanya bertujuan mengembangkan kemampuan akademik peserta didik, tetapi juga membentuk karakter, kebiasaan positif, dan kemampuan untuk hidup bersama dalam masyarakat. Sekolah memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang memungkinkan peserta didik tidak sekadar mengetahui nilai-nilai kebaikan, tetapi mampu mengalami, mempraktikkan, dan menjadikannya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
SMP Negeri 1 Kalibawang memandang bahwa pembentukan karakter akan lebih bermakna apabila peserta didik diberi kesempatan untuk belajar melalui pengalaman nyata. Nilai kepedulian, empati, tanggung jawab, kerja sama, dan kemampuan bermasyarakat tidak cukup hanya disampaikan melalui nasihat atau pembelajaran di kelas. Nilai-nilai tersebut perlu dihidupkan melalui kegiatan yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berpikir, mengambil keputusan, bertindak, dan merefleksikan pengalamannya.
Dalam Program Kokurikuler Tahun Pelajaran 2026/2027, sekolah mengembangkan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat sebagai salah satu upaya membangun pembiasaan positif secara terencana dan berkelanjutan. Namun, sebagai Kepala Sekolah, saya melihat bahwa tantangan pendidikan karakter bukan hanya bagaimana membuat peserta didik melakukan suatu kebiasaan secara berulang, melainkan bagaimana setiap kebiasaan tersebut memiliki makna dan menjadi bagian dari proses belajar.
Dari refleksi tersebut, muncul gagasan untuk mengembangkan salah satu kegiatan pembiasaan melalui Program Jumat Berkah. Program ini tidak dirancang sekadar sebagai kegiatan mengumpulkan infaq dan menyalurkan bantuan. Jumat Berkah dikembangkan menjadi ruang belajar yang memberikan pengalaman nyata kepada peserta didik untuk memahami makna berbagi, bermusyawarah, mengambil keputusan, menentukan sasaran, melaksanakan aksi sosial, serta melakukan refleksi.
Pelaksanaan pertama Program Jumat Berkah dilakukan dalam satu siklus pada tanggal 24 Juli 2026 dan 31 Juli 2026. Seluruh peserta didik kelas VII, VIII, dan IX yang berjumlah 288 peserta didik terlibat dalam kegiatan tersebut. Pelaksanaan pertama ini menjadi pengalaman awal bagi sekolah untuk membuktikan bahwa kegiatan pembiasaan dapat ditransformasikan menjadi proses Pembelajaran Mendalam.
Permasalahan dan Tantangan yang Dihadapi
Tantangan utama yang kami hadapi adalah bagaimana pembiasaan karakter tidak berhenti sebagai kegiatan rutin. Sebuah kegiatan dapat dilakukan secara terjadwal dan berulang, tetapi belum tentu peserta didik memahami nilai dan makna yang terkandung di dalamnya.
Tantangan berikutnya adalah bagaimana meningkatkan keterlibatan peserta didik. Dalam beberapa kegiatan, peserta didik masih terbiasa menerima arahan. Padahal, pembentukan karakter membutuhkan keterlibatan aktif. Peserta didik perlu belajar menyampaikan pendapat, mendengarkan pandangan orang lain, menghargai perbedaan, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab terhadap keputusan tersebut.
Selain itu, sekolah menghadapi tantangan untuk menghubungkan pembiasaan karakter dengan kehidupan nyata. Nilai kepedulian tidak cukup dipahami sebagai konsep. Peserta didik perlu mengalami secara langsung bagaimana kepedulian diwujudkan dalam tindakan nyata kepada sesama.
Tantangan lainnya adalah bagaimana menjadikan Program Jumat Berkah sebagai bagian dari proses Pembelajaran Mendalam dan penguatan Delapan Dimensi Profil Lulusan. Kegiatan tidak boleh berhenti pada hasil akhir berupa penyaluran bantuan. Proses sebelum dan sesudah aksi justru perlu dirancang sebagai pengalaman belajar.
Berangkat dari tantangan tersebut, diperlukan perubahan cara pandang. Kegiatan berbagi tidak hanya diposisikan sebagai kegiatan sosial, tetapi sebagai ruang belajar. Peserta didik tidak hanya diminta untuk melakukan kebaikan, tetapi diberi kesempatan untuk memahami mengapa kebaikan perlu dilakukan dan merefleksikan makna dari tindakan yang telah dilakukan.
PROSES TRANSFORMASI: DARI PEMBIASAAN MENUJU PEMBELAJARAN MENDALAM
Kepala Sekolah sebagai Penggerak Perubahan
Sebagai Kepala Sekolah, saya memandang bahwa transformasi tidak dapat dilakukan hanya melalui instruksi. Perubahan membutuhkan kesamaan pemahaman, kolaborasi, dan keterlibatan seluruh warga sekolah.
Langkah awal yang saya lakukan adalah membangun refleksi bersama tentang kegiatan pembiasaan karakter di sekolah. Pertanyaan yang menjadi dasar refleksi adalah: Apakah peserta didik hanya mengikuti kegiatan, ataukah mereka benar-benar belajar dari kegiatan tersebut? Pertanyaan tersebut menjadi titik awal perubahan.
Saya mendorong guru dan warga sekolah untuk melihat kegiatan pembiasaan bukan hanya dari sisi keterlaksanaannya, tetapi dari pengalaman belajar yang diperoleh peserta didik. Bersama warga sekolah, kegiatan Jumat Berkah kemudian dirancang agar memberikan ruang kepada peserta didik untuk terlibat sejak awal proses.
Dalam pelaksanaannya, saya berperan sebagai pengarah dan penggerak. Saya mendorong adanya keterlibatan guru dalam mendampingi proses pembentukan karakter, membuka ruang bagi peserta didik untuk menyampaikan pendapat dan bermusyawarah, serta memastikan bahwa kegiatan dilaksanakan secara terarah dan dapat direfleksikan.
Peran guru juga mengalami penguatan melalui program ini. Salah seorang guru menyampaikan bahwa dirinya ikut belajar bagaimana menuntun peserta didik dalam proses pembentukan karakter agar peserta didik memiliki kepedulian dan kemauan untuk berbagi kepada yang membutuhkan. Guru lain menyampaikan bahwa dirinya belajar mendampingi peserta didik dalam proses musyawarah untuk mencapai mufakat.
Bagi saya, tanggapan tersebut menunjukkan bahwa transformasi tidak hanya terjadi pada peserta didik. Guru pun belajar mengembangkan perannya sebagai pendamping proses belajar dan pembentukan karakter.
Jumat Berkah: Dari Kegiatan Berbagi Menjadi Ruang Belajar
Transformasi utama yang kami lakukan adalah mengubah cara memandang kegiatan berbagi. Program Jumat Berkah dimulai dari pengumpulan dana infaq oleh peserta didik di masing-masing kelas. Namun, pengumpulan dana bukanlah tujuan akhir. Dana yang terkumpul menjadi bagian dari proses belajar yang lebih luas.
Peserta didik kemudian terlibat dalam musyawarah untuk menentukan sasaran dan bentuk aksi sosial. Dari hasil musyawarah, peserta didik menyepakati bahwa hasil infaq akan digunakan untuk membantu teman-teman di SMP Negeri 1 Kalibawang yang kurang mampu dan anak yatim piatu.
Keputusan tersebut bukan sekadar keputusan untuk menyalurkan bantuan. Melalui proses musyawarah, peserta didik belajar mendengarkan pendapat, menghargai perbedaan pandangan, serta menentukan kesimpulan bersama.
Pada satu siklus pelaksanaan, dana infaq yang terkumpul mencapai Rp1.040.000,00. Dana tersebut kemudian digunakan untuk membeli sembako. Bantuan diberikan kepada 13 peserta didik SMP Negeri 1 Kalibawang yang kurang mampu dan/atau anak yatim piatu.
Dengan demikian, peserta didik dapat melihat hubungan langsung antara proses yang mereka lakukan dengan manfaat yang diterima oleh teman mereka sendiri. Mereka tidak hanya belajar konsep kepedulian, tetapi mengalami bahwa tindakan kecil yang dilakukan bersama dapat memberikan manfaat nyata kepada sesama.
Tahapan Pelaksanaan
Program Jumat Berkah dilaksanakan dalam satu siklus yang berlangsung pada dua hari Jumat, yaitu tanggal 24 Juli 2026 dan 31 Juli 2026.
Membangun Kesadaran dan Mengumpulkan Infaq
Pada tahap awal, peserta didik diajak memahami makna kepedulian dan berbagi. Mereka kemudian melakukan infaq dari masing-masing kelas sebagai bentuk partisipasi dalam kegiatan.
Tahap ini menjadi bagian awal untuk membangun kesadaran bahwa berbagi merupakan tindakan yang dilakukan secara sukarela dan dilandasi kepedulian terhadap sesama.
Musyawarah dan Pengambilan Keputusan
Setelah dana terkumpul, peserta didik terlibat dalam proses musyawarah untuk menentukan sasaran dan bentuk aksi sosial.
Hasil musyawarah menunjukkan adanya kesepakatan untuk membantu teman-teman di sekolah yang kurang mampu dan anak yatim piatu. Proses ini memberikan pengalaman kepada peserta didik untuk menyampaikan pendapat, mendengarkan pendapat orang lain, menghargai perbedaan, serta menentukan kesimpulan dari forum diskusi.
Aksi Berbagi
Dana yang terkumpul sebesar Rp1.040.000,00 digunakan untuk membeli sembako. Selanjutnya, sembako tersebut dibagikan kepada 13 peserta didik yang menjadi penerima manfaat.
Aksi ini menjadi pengalaman nyata bagi peserta didik bahwa proses kepedulian tidak berhenti pada keinginan untuk membantu. Kepedulian diwujudkan melalui tindakan bersama yang memberikan manfaat.
Refleksi dan Evaluasi Bersama
Setelah aksi dilakukan, kegiatan dilanjutkan dengan refleksi dan evaluasi. Peserta didik diajak untuk mengungkapkan pengalaman dan pembelajaran yang diperoleh. Beberapa peserta didik menyampaikan, “Senang dan bersyukur karena bisa berbagi ke orang yang lebih membutuhkan.”
Peserta didik lainnya menyampaikan komitmen, “Saya akan lebih peduli, akan menolong sesama dan saling membantu.” Ada pula yang menyatakan keinginannya untuk meningkatkan rasa kepedulian dan memperkuat rasa kekeluargaan antarteman dan sesama.
Refleksi tersebut menjadi bagian penting untuk melihat bahwa aksi sosial tidak berhenti ketika bantuan diberikan. Peserta didik diajak membawa pengalaman tersebut menjadi kesadaran dan komitmen dalam kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran Mendalam dalam Aksi Nyata
Program Jumat Berkah menjadi salah satu ruang penerapan Pembelajaran Mendalam melalui pengalaman yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.
Berkesadaran
Peserta didik tidak hanya melakukan infaq dan berbagi karena mengikuti kegiatan sekolah. Mereka diajak memahami tujuan kegiatan dan mempertimbangkan siapa yang dapat menerima manfaat dari kegiatan tersebut.
Proses musyawarah membantu peserta didik menyadari bahwa tindakan sosial memerlukan pertimbangan. Mereka belajar bahwa keputusan yang diambil bersama perlu didasarkan pada kepedulian dan kebutuhan.
Bermakna
Pembelajaran menjadi bermakna karena peserta didik mengalami secara langsung proses berbagi kepada teman mereka sendiri. Mereka mengetahui bahwa hasil infaq yang dikumpulkan digunakan untuk membantu 13 teman di sekolah yang membutuhkan.
Pengalaman tersebut menghubungkan nilai kepedulian dengan kehidupan nyata. Peserta didik dapat melihat bahwa tindakan sederhana yang dilakukan bersama dapat memberikan manfaat kepada orang lain.
Salah satu refleksi peserta didik, yaitu rasa senang dan bersyukur karena dapat berbagi kepada orang yang lebih membutuhkan, menunjukkan bahwa pengalaman tersebut memiliki makna pribadi bagi peserta didik.
Menggembirakan
Pembelajaran yang menggembirakan dalam Jumat Berkah tumbuh melalui keterlibatan peserta didik. Mereka tidak hanya mendengarkan arahan, tetapi ikut bermusyawarah, menyampaikan pendapat, mengambil keputusan, dan terlibat dalam aksi.
Khusus bagi peserta didik kelas VII sebagai peserta didik baru, kegiatan ini menjadi ruang untuk mulai berani tampil di hadapan teman sekelas maupun kakak kelasnya. Keterlibatan dalam forum bersama memberikan pengalaman sosial yang mendorong keberanian dan rasa percaya diri.
Menumbuhkan Delapan Dimensi Profil Lulusan
Program Jumat Berkah memberikan pengalaman belajar yang mendukung berkembangnya Delapan Dimensi Profil Lulusan secara terpadu.
Dimensi keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa berkembang melalui pembiasaan berbagi sebagai wujud kepedulian terhadap sesama. Peserta didik belajar bahwa kepedulian dapat diwujudkan dalam tindakan nyata.
Dimensi kewargaan berkembang ketika peserta didik memahami bahwa mereka merupakan bagian dari komunitas sekolah dan memiliki tanggung jawab sosial terhadap sesama.
Dimensi penalaran kritis berkembang melalui proses musyawarah, ketika peserta didik mempertimbangkan sasaran bantuan dan menentukan kesimpulan dari forum diskusi.
Dimensi kreativitas dapat tumbuh melalui proses mencari gagasan dan menentukan bentuk aksi sosial yang sesuai dengan hasil musyawarah.
Dimensi kolaborasi berkembang ketika seluruh peserta didik dari kelas VII, VIII, dan IX yang berjumlah 288 orang terlibat dalam rangkaian kegiatan dan bekerja bersama untuk mewujudkan aksi berbagi.
Dimensi kemandirian berkembang melalui keterlibatan peserta didik dalam menjalankan peran dan membangun kesadaran untuk meningkatkan kepedulian tanpa hanya menunggu arahan.
Dimensi komunikasi berkembang melalui kegiatan musyawarah, penyampaian pendapat, kemampuan mendengarkan, menghargai perbedaan pendapat, serta kemampuan mengambil kesimpulan bersama.
Sementara itu, dimensi kesehatan dapat dikembangkan dalam setiap kegiatan melalui pembiasaan memperhatikan kebersihan, keamanan, dan kesehatan dalam pelaksanaan aksi sosial.
Dengan demikian, Delapan Dimensi Profil Lulusan tidak diposisikan sebagai daftar yang harus dicapai secara terpisah, tetapi tumbuh melalui pengalaman belajar yang saling berkaitan.
Refleksi sebagai Jalan Perbaikan
Salah satu bagian penting dalam praktik baik ini adalah refleksi. Saya memandang bahwa program yang baik bukanlah program yang dianggap selesai setelah kegiatan dilaksanakan, tetapi program yang terus belajar dari setiap pelaksanaan.
Refleksi dilakukan bersama peserta didik dan guru. Bagi peserta didik, refleksi menjadi ruang untuk menyampaikan pengalaman, perasaan, pembelajaran, dan komitmen setelah mengikuti kegiatan. Munculnya pernyataan untuk meningkatkan kepedulian, menolong sesama, saling membantu, serta meningkatkan rasa kekeluargaan menunjukkan bahwa kegiatan telah memberikan pengalaman yang dapat dihubungkan dengan kehidupan pribadi peserta didik.
Bagi guru, refleksi menjadi kesempatan untuk belajar tentang cara mendampingi peserta didik. Guru tidak hanya memberikan arahan, tetapi belajar menuntun proses pembentukan karakter dan mendampingi peserta didik dalam musyawarah mufakat.
Bagi saya sebagai Kepala Sekolah, pelaksanaan satu siklus pertama ini menjadi dasar untuk melihat kekuatan dan hal-hal yang perlu diperbaiki. Karena baru dilaksanakan dalam satu siklus, hasil pelaksanaan ini belum dapat digunakan untuk menyimpulkan perubahan karakter dalam jangka panjang. Namun, proses pertama ini telah memberikan bukti awal mengenai pentingnya keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran karakter.
Ke depan, setiap pelaksanaan akan terus didokumentasikan dan direfleksikan sebagai dasar perbaikan. Siklus yang dikembangkan adalah merencanakan, melaksanakan, merefleksikan, memperbaiki, dan melaksanakan kembali.
P E N U T U P
Dampak dan Bukti Perubahan
Pelaksanaan pertama Program Jumat Berkah pada tanggal 24 dan 31 Juli 2026 memberikan bukti awal bahwa pembiasaan dapat dikembangkan menjadi pengalaman belajar yang lebih bermakna.
Bukti pertama terlihat dari tingkat keterlibatan. Seluruh 288 peserta didik kelas VII, VIII, dan IX terlibat dalam satu siklus kegiatan, mulai dari pengumpulan infaq, proses musyawarah, penentuan sasaran, aksi berbagi, hingga refleksi dan evaluasi.
Bukti kedua terlihat dari hasil musyawarah. Peserta didik menyepakati bahwa dana infaq yang terkumpul digunakan untuk membantu teman-teman di sekolah yang kurang mampu dan anak yatim piatu. Dana sebesar Rp1.040.000,00 diwujudkan dalam bentuk sembako dan diberikan kepada 13 peserta didik penerima manfaat.
Bukti ketiga terlihat dari perubahan yang diamati selama proses kegiatan. Peserta didik mulai menunjukkan rasa empati dan rasa syukur karena dapat berbagi kepada teman yang membutuhkan. Mereka belajar menghargai perbedaan pendapat dan menentukan kesimpulan melalui forum diskusi.
Bagi peserta didik kelas VII, kegiatan juga menjadi ruang awal untuk membangun keberanian. Mereka mulai berani tampil dan berpartisipasi di hadapan teman sekelas maupun kakak kelas.
Bukti berikutnya muncul melalui refleksi peserta didik. Komitmen untuk lebih peduli, menolong sesama, saling membantu, dan meningkatkan rasa kekeluargaan menunjukkan bahwa peserta didik tidak hanya menjalani aktivitas, tetapi mulai memaknai pengalaman tersebut.
Dampak juga dirasakan oleh guru. Guru memperoleh pengalaman dalam mendampingi pembentukan karakter dan proses musyawarah peserta didik. Dengan demikian, Jumat Berkah tidak hanya menjadi ruang belajar bagi peserta didik, tetapi juga menjadi ruang refleksi dan pembelajaran bagi pendidik.
Simpulan
Transformasi pendidikan tidak selalu harus dimulai dari program yang besar. Perubahan dapat dimulai dari kegiatan sederhana ketika kegiatan tersebut dirancang sebagai pengalaman belajar.
Melalui Program Jumat Berkah, SMP Negeri 1 Kalibawang berupaya mentransformasikan pembiasaan berbagi menjadi proses Pembelajaran Mendalam. Peserta didik tidak hanya melakukan infaq dan menerima arahan, tetapi terlibat dalam musyawarah, menentukan sasaran, mengambil keputusan, melakukan aksi sosial, serta merefleksikan pengalaman.
Sebagai Kepala Sekolah, saya memandang bahwa peran kepemimpinan dalam transformasi bukan sekadar memastikan program terlaksana. Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mengajak warga sekolah melihat kembali praktik yang dilakukan, menemukan peluang perbaikan, membangun kolaborasi, dan menciptakan ruang belajar yang lebih bermakna bagi peserta didik.
Pelaksanaan pertama Jumat Berkah yang melibatkan 288 peserta didik telah menunjukkan bukti awal bahwa keterlibatan peserta didik dalam proses nyata dapat menumbuhkan empati, rasa syukur, kemampuan menghargai perbedaan pendapat, keberanian berpartisipasi, serta kepedulian terhadap sesama.
Praktik ini masih akan terus dikembangkan melalui siklus refleksi dan perbaikan berkelanjutan. Bagi kami, keberhasilan Jumat Berkah tidak hanya diukur dari jumlah dana yang terkumpul atau bantuan yang disalurkan, tetapi terutama dari proses belajar yang tumbuh di dalamnya.
Melalui Jumat Berkah, kami belajar bahwa berbagi dapat menjadi ruang untuk belajar, pengalaman dapat menjadi sumber refleksi, dan refleksi dapat menjadi jalan menuju perubahan.
Dari pembiasaan sederhana, kami berupaya menumbuhkan kesadaran. Dari kesadaran, kami mendorong tindakan. Dan melalui tindakan yang terus direfleksikan, kami berharap tumbuh peserta didik yang tidak hanya mengetahui arti kebaikan, tetapi mampu menghidupkan kebaikan dalam kehidupan bersama.
By. Setyo B.
Copyright © 2017 - 2026 SMP NEGERI 1 KALIBAWANG All rights reserved.
Powered by sekolahku.web.id